Sejak 20 02 2022

"Sejak 20 02 2022 tulisan-tulisan dalam blog ini merupakan pacuan untuk diri saya sendiri. Ditulis khususnya untuk mengingatkan diri sendiri."

Thursday, August 19, 2021

Senja


Senja

Senja berkontribusi pada setiap waktunya. Beberapa orang merasakannya. Beberapa yang lain tidak merasakannya. Jika orang-orang itu tidak merasakannya, bukan berarti senja tidak berkontribusi pada waktunya.

Aku merindukan waktu diantara senja yang aku bisa diam merasakan waktu diantara senja tanpa terdistorsi urusan-urusan keinginan orang terhadapku. Aku berharap banyak bisa mensyukuri melebihi kemampuanku saat ini untuk mensyukuri. Seperti ketika angin pongah tersesat didalam botol minuman kosong, terjebak disitu aku bisa memanfaatkan waktunya untuk ngobrol sesaat karena dia sedang terjebak disitu; atau tindakan-tindakan lain yang mencerminkan aku hidup, berkesadaran, ada saat ini, terlibat disaat ini, sedang diperhatikan penuh, tidak harus bahagia, tidak sedang terburu-buru atau diburu sesuatu, ...

Menjadi ada dan menyadari betapa aku jatuh cinta dengan anak-anakku. Perasaan bahagia bercampur cemas something bad happen dan percaya something good always happen. Dan seseorang dulu pernah berkata: "Rasa cintanya Rasulullah itu kepada umatnya melebihi rasa cinta ibumu" atau bisa jadi ingatanku kurang bagus yang benar adalah "Rasa cinta penciptamu melebihi rasa cinta ibumu terhadap kamu" - Jujur, aku berusaha mengumpulkan kesadaran atas hal ini secara berkesinambungan sepanjang waktu.

Rasa dicintai itu membuat kita menjadi kuat. Kamu melakukan banyak ritual tanpa rasa sadar bahwa kamu sangat dicintai itu berbeda rasanya dengan kamu lakukan ritual itu hanya karena takut masuk neraka yang mungkin ga ada tembakau disana. Apinya ada, tapi ga bakal ada rokok disana.

Bayi-bayi dan anak-anakku memiliki kapasitas untuk tidur pagi dan mereka selalu memaksimalkan kapasitas itu. Membuat kami (aku dan istriku) ikut terseret kebiasaan itu. Walau kami tak sejago bayi-bayi dan anak-anakku. 
Dengan alasan besok pagi berangkat ke kantor, istriku mengijinkanku tidur duluan. Akhirnya seperti saat ini saat mereka semua tidur aku punya waktu untuk menulis dan memikirkan banyak hal. Membangun kesadaran.

Sama seperti keputusan untuk pindah ke Mojokerto dari Surabaya agar biaya hidup lebih irit. Perjalanan panjang setiap pagi berangkat ke kantor dan pulangnya mengijinkanku untuk memikirkan banyak hal. Senja biasanya menemaniku saat itu.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari

Perjuangan Membaca Buku | Bangkrut | Kontribusi



Perjuangan Membaca Buku | Bangkrut | Kontribusi

Membaca buku adalah sebuah perjuangan tersendiri. 
  • Apalagi dulu sesaat setelah aku bangkrut untuk kesekian kalinya, ayahku berkata: "Buat apa baca semua buku sebanyak itu, dzikiran saja"
  • Apalagi setelah kebangkrutan itu aku baca sebuah buku yang tampaknya pernah aku baca dan disana terpapar jelas tulisan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan sehingga aku menjadi bangkrut dan aku sadar aku pernah membacanya di beberapa waktu sebelumnya; dan aku sama sekali lupa peringatan kesalahan tersebut sehingga aku melakukannya. Dan bangkrut.
Menjadi bangkrut mungkin adalah episode penting yang terjadi dalam hidupku sehingga sebegitu segala sesuatu yang diperlukan untuk tidak menjadi bangkrut sudah kusiapkan (termasuk membaca buku anti bangkrut) tapi tetap saja bangkrut.

Kemaren dulu temanku dihujat dan diusir oleh temanku yang lain. Aku tercengang mendengarnya. Temanku yang terusir sangat marah. Lalu dia memutuskan untuk melampiaskannya dengan mencoba hal baru. Aku mengarahkannya untuk belajar berdamai dengan kenyataan dengan fokus pada satu hal. Fokus pada zat yang menciptakan paru-paru, jantung, darah, otak, dan mengijinkan semua kejadian yang terjadi.

Tiba-tiba temanku itu masuk Islam. Minta dibantu syahadat. Aku tuntut syahadat dengan saksi istri dan kontraktorku. Di rumah.

Tindakan menghujat dan mengusir yang awalnya aku anggap sebagai tindakan negatif, kini aku anggap sebagai tindakan positif. Hahaha...

Jadi bangkrutku beberapa kali menyadarkanku aku lemah pada urusan manajemen. Urusan yang bosku sangat jago dalam mengurusnya. Aku bisa menjual produk 500ribu terjual 50juta dan sama-sama untung serta bahagia antara penjual dan pembeli; namun manajemen perusahaan itu bukan rezekiku. Atas kejadian dan kesadaran itu aku ada disini.

Bisa jadi bangkrutku dulu itu adalah rezekiku hari ini. Yang membawaku keliling negara-negara, berkontribusi di puluhan ribu member (ini dunia pekerjaan yang paling aku sukai), dan bisa tetap berpenghasilan baik di masa pandemi.

Jadi buat apa aku membaca buku sebanyak itu jika suka-suka DIA untuk menghapusnya dalam ingatanku atau membiarkanku mengintepretasikan berbeda atau tidak menjamin bahwa aku bakal mencapai tujuan-tujuan atau hal-hal lainnya yang tampaknya bukan hal yang menyenangkan?

Mungkin karena itu kata pertama yang diucapkan Malaikat Jibril saat memeluk Rasulullah SAW. 
Mungkin juga karena aku merasa aku menyukai membaca buku padahal aku cuma suka membeli buku.

Ini bukan tentang hasil, ini tentang ikhtiar. Bahwa salah satu usaha aku menjemput RidhoNya dengan membaca dan berkontribusi.
Karena kita tidak pernah tahu akhir ceritanya.
Hal-hal baik yang kita lakukan jika belum ditampakkan hasil baiknya bukan berarti hal-hal baik itu tindakan tidak baik.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari

Solusi Seharusnya Praktis dan Bisa Dilakukan Oleh Siapa Saja



Solusi Seharusnya Praktis dan Bisa Dilakukan Oleh Siapa Saja

Atau ide besar dalam sebuah perusahaan bahwa entah bagaimana caranya pokoknya (setiap) admin (pun) bisa menghasilkan transaksi miliaran. 

Kalau ditemukan sebuah cara, yaitu 3 langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja untuk besok pagi rekening perusahaan bertambah 1 triliun; pasti banyak yang antri pengen ilmunya.

Pertanyaan harus cukup sederhana, perihal solusinya tidak sederhana gapapa, untuk sementara. Untuk sesaat kemudian disederhanakan.

Sering setiap aku ditawari kopi sama pelayan pada sebuah kafe, "Pak mau pesan kopi apa?"
Aku jawab: "Kopi apa yang ketika saya minum sekarang, besok saya dapat 2 miliar"

Atau pelayan Indomaret yang setiap selesai menyelesaikan transaksi lalu bertanya: "Ada lagi Pak yang bisa saya bantu?" (kira-kira gitu ngomongnya)
Aku jawab: "Ada, doakan semua lancar hari ini"

Atau setiap pemotong rambut yang hendak memotong rambutku selalu bertanya "Minta model rabut seperti apa?" dan kujawab "Model rambut yang setiap orang melihatnya langsung ngasih aku uang dua juta"

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak membuat Anda menolak untuk memikirkannya, bisa jadi Anda bisa menjawab kebutuhan perusahaan Anda untuk meningkatkan omset dua kali lipat dalam 30 hari misalnya.

Aku sering tertantang untuk memikirkannya, cuma aku ga pernah tertantang untuk menceritakan kepada orang-orang jawabannya. Karena tidak semua orang yang kuceritakan caranya, tidak semua berkenan untuk berbagi.

Kalau partnermu berkata, "Ayo Bro bagaimana caranya meningkatkan omset?" tapi yang masuk ke benakmu adalah "Ayo Bro pikirkan atau lakukan bagaimana caranya supaya aku tambah kaya?"
Tentu otak dan tubuhmu enggan bergerak.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari

Rezeki



Pijar sedang tidur. Biasanya dia tidur menjelang subuh. Kali ini tengah malam lewat dua jam sudah mulai tidur. Dan pagi ini sebelum kami pergi dia merengek dalam tidurnya. Segera istriku membuatkan dia susu dalam botol dan langsung menempelkan dot botol tersebut pada Pijar.

Pijar merasakan dot botol tersebut dan langsung menghisapnya. Meminum susu. Tetap dalam mata terpejam. Sesaat setelah merengek. Itulah rezeki.

Saat kita terlelap pun jika Allah SWT berkehendak rezeki itu datang, maka dalam keadaan tidurpun rezeki tersebut disodorkan ke mulut kita. 

Rezeki yang sama saat bayi lahir lalu sang Ibu tiba-tiba memiliki ASI. 

Rezeki yang sama saat tiba-tiba temanku bilang: "Bro, kamu jadi direktur MCI mau?" 
"Kerjanya ngapain?"
"Ya temani member jalan-jalan keluar negeri, keliling kota bagi-bagi plakat 500 juta, ngomong diatas panggung"

Walau praktekkan list banyak pekerjaan lebih bejibun daripada akad awal, ya tetap aja rezeki. Rezeki untuk banyak belajar.

Rezeki terbesar itu adalah saat mereka berdatangan dan berkata: "Pak. saya ada masalah..."
Ya itu rezekiku untuk membantu.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari