Sejak 20 02 2022

"Sejak 20 02 2022 tulisan-tulisan dalam blog ini merupakan pacuan untuk diri saya sendiri. Ditulis khususnya untuk mengingatkan diri sendiri."

Wednesday, August 11, 2021

Serahkan Pada Ahlinya | Jasa Bangun Rumah Mojokerto (Judul Ala SEO, Hahaha...)

Serahkan Pada Ahlinya

Kami memutuskan untuk membeli rumah di samping rumah mertuaku. Dengan mencicil semampunya. Dan langsung membangun. Dengan mencicil dengan akad 20 juta perminggu.

Sungguh perbuatan yang tidak biasa bagi kami. Diatas kertas, uang kami tidak mencukupi. Apalagi jika menggunakan jasa profesional, kontraktor yang berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam hal bangun membangun rumah dan perumahan.

Akan lebih murah jika kami pakai saja tukang, beli material sendiri, bayar semampunya, pasti lebih murah. Walau lebih melelahkan dan memaksa kami harus belajar banyak. 

Namun seperti jika beberapa calon pengguna jasa kontraktor kami saat meminta tenaga kami saja, sisanya mereka yang urus pembangunan rumah mereka. Ini jawabannya:
  1. Resiko jika material datang terlambat, maka tukang jadi tidak bekerja di hari itu. Jika tukang tetap dibayar, kasihan pemberi pekerjaan. Jika tukang tidak dibayar karena tidak ada pekerjaan, maka kasihan tukangnya. Kesalahan pada mobilitas material, tukang jadi korbannya.
  2. Resiko kami susah melakukan koordinasi, malah pembangunan jadi lebih lama, malah jadi lebih boros.
  3. Ada teori, ada pengalaman. Kontraktor dengan pengalaman lebih dari 10 tahun membangun maka pengalaman itu yang kita butuhkan agar bangunan rumah kami menjadi nyaman, kokoh, tidak ada masalah dikemudian hari.
    Tiddak seperti kontrakan yang kami tinggali sementara ini selama rumah dibangun; saluran kamar mandi buntu, tempat cuci meluap, kalau ga pakai AC-ruangan jadi panas, dan siang hari masih perlu lampu. Maka jadi boros dalam jangka panjang.
  4. Dengan kami serahkan ke kontraktor, maka kami bisa fokus mencari uangnya, sesuai bidang kami.
Jika kamu serahkan sesuatu pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran. Itu kira-kira pepatah lama.

Yohan Wibisono
Pada suatu hari

Hidup Minimalis, Kontribusi Maksimalis


Hidup Minimalis, Kontribusi Maksimalis

Beberapa orang cara membahagiakannya adalah dengan kesempatan untuk melakukan banyak hal untuk orang lain (lebih banyak daripada untuk diri sendiri)

Kemampuan belanja kadang tidak sebanding dengan kemampuan menganalisa apakah barang-barang dan jasa yang kita beli benar-benar kita butuhkan? 
Masing-masing dari kita memiliki kapasitas yang berbeda dalam menilai, menahan diri, melakukan analisa apakah yang akan kita beli benar-benar manfaat, atau kehausan sesaat, atau 'menebus rasa masa lalu'. Atau terkadang kita membeli sesuatu sekedar untuk kita tunjukkan bahwa kita mampu membeli, memiliki, berkuasa atas sesuatu.

Dalam dunia pemasaran, orang tidak membeli barang dan jasa yang dia sanggup beli. Orang membeli rasa yang dia inginkan saat menggunakan barang dan jasa tersebut.

Hidup minimalis dan kontribusi maksimalis adalah kiblat bagi orang-orang yang menyadari dan bertindak bahwa dunia adalah 'penjara bagi orang-orang beriman'. Mereka menyadari bahwa dunia ini fana, dan yang kekal adalah hari akhir. Maka mereka berinvestasi pada hari akhir dengan berkontribusi/ beramal sebanyak mereka mampu.

Hidup minimalis dan kontribusi maksimalis adalah kesadaran dan tindakan orang-orang yang yakin bahwa semua yang mereka 'miliki' di dunia akan diminta pertanggungjawabannya. Maka mereka berusaha sedemikian rupa memiliki barang sesedikit mungkin dan mengkontribusikannya kepada yang membutuhkan sebanyak mungkin.

Hidup minimalis dan kontribusi maksimalis adalah orang-orang yang juga sudah 'kelelahan' menuruti hawa nafsunya memiliki banyak barang sampai suatu masa mereka menyadari bahwa bergitu banyak barang malah menyita banyak waktu mereka untuk menjaga merawat dan mengaturnya. Sejak itu mereka bertindak meminimalkan jumlah kepemilikan barang dan ruang.

Yohan Wibisono
Pada suatu hari 

Mendapatkan adalah Satu Hal; Menyimpannya dengan Baik adalah Keahlian yang Lain; Membiarkannya menjadi Milik Kita dan Tumbuh Berkelimpahan adalah Keahlian yang Lain Lagi


Mendapatkan adalah Satu Hal;
Menyimpannya dengan Baik adalah Keahlian yang Lain; Membiarkannya menjadi Milik Kita dan Tumbuh Berkelimpahan adalah Keahlian yang Lain Lagi

Memperjuangkan sesuatu hingga menjadi milik kita adalah satu tema sendiri yang berbeda dengan saat sudah menjadi milik kita dan kita menjaganya dengan baik.

Seperti saat kita ingin memiliki rumah. Kita perjuangkan untuk mendapatkannya. Kita mengembangkan keahlian untuk mendapatkannya (atau umumnya) untuk mampu membelinya.

Namun saat rumah itu sudah kita dapatkan, maka keahlian yang dibutuhkan untuk mampu menjaga dan merawat rumah tersebut adalah keahlian yang berbeda dibandingkan dengan keahlian untuk mendapatkannya. Keahlian merawat dan menjaga rumah. Menjaga kenyamanannya, menjaga fungsinya tetap berjalan dengan baik.

Kemudian saat Anda mengembangkan rumah Anda tersebut sedemikian rupa hingga rumah tersebut mampu menghasilkan uang (misalnya), itu juga merupakan keahlian yang berbeda.

Apalagi saat rumah Anda tersebut mampu berkembang mengakusisi rumah-rumah disekitarnya. Itu jenis keahlian yang super.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari