Halaman

Tindakan Baik dan Tindakan Benar

"Dia selingkuh Pak, sudah sejak beberapa tahun yang lalu"
  • "Ada buktinya?" tanyaku
"Ada"
  • "Lalu kenapa hak asuh anak-anak dipegang dia (setelah perceraian)?" tanyaku lagi
"Ya saya tidak tunjukkan bukti bahwa dia selingkuh, kasihan anak-anak kalau tahu ibunya tidur dengan laki-laki lain"
  • "Tapi sekarang anak-anak tidak bisa Bapak temui?"
Dia diam. 
Laki-laki ini sudah cukup lama menahan kerinduan untuk bertemu dengan anak-anaknya. Mantan istrinya menghalanginya.

Tindakan dia baik pada saat itu. Masih tetap berusaha menjaga nama baik ibu dari anak-anaknya. Tapi bukan keadaan ini yang dia sangka akan terjadi. Tidak bisa menjumpai anak-anaknya.

"Pak, sekali-kali, cobalah bertindak benar; bukan sekedar berusaha menjadi orang baik" pesanku
...

Banyak kita lihat di infotainment perihal sepasang artis yang sedang dimabuk asmara diwawancarai awak media yang sedang butuh berita garing dengan mengajukan pertanyaan garing: "Kenapa kamu memilih dia sebagai pasanganmu?"

Dijawablah kegaringan itu dengan jawaban garing: "Karena dia baik sama aku"

Skip skip skip

Akhirnya mereka menikah

Skip skip skip

Akhirnya mereka bercerai, saling tuntut, saling sindir-hujat di media, buka aib, dan lain sebagainya
...

Saat pacaran berperan untuk menjadi pacar yang baik adalah mudah. Tapi saat menikah, mengambil tanggung jawab kehidupan berumah tangga adalah pelajaran seumur hidup. Tidak cukup hanya menjadi orang baik. Butuh banyak sikap dan tindakan benar dalam berumah tangga.

Bijaksana salah satunya adalah paham kapan harus bertindak baik dan kapan harus bertindak benar.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari

No comments:

Post a Comment