Halaman

Senja

Senja

Senja berkontribusi pada setiap waktunya. Beberapa orang merasakannya. Beberapa yang lain tidak merasakannya. Jika orang-orang itu tidak merasakannya, bukan berarti senja tidak berkontribusi pada waktunya.

Aku merindukan waktu diantara senja yang aku bisa diam merasakan waktu diantara senja tanpa terdistorsi urusan-urusan keinginan orang terhadapku. Aku berharap banyak bisa mensyukuri melebihi kemampuanku saat ini untuk mensyukuri. Seperti ketika angin pongah tersesat didalam botol minuman kosong, terjebak disitu aku bisa memanfaatkan waktunya untuk ngobrol sesaat karena dia sedang terjebak disitu; atau tindakan-tindakan lain yang mencerminkan aku hidup, berkesadaran, ada saat ini, terlibat disaat ini, sedang diperhatikan penuh, tidak harus bahagia, tidak sedang terburu-buru atau diburu sesuatu, ...

Menjadi ada dan menyadari betapa aku jatuh cinta dengan anak-anakku. Perasaan bahagia bercampur cemas something bad happen dan percaya something good always happen. Dan seseorang dulu pernah berkata: "Rasa cintanya Rasulullah itu kepada umatnya melebihi rasa cinta ibumu" atau bisa jadi ingatanku kurang bagus yang benar adalah "Rasa cinta penciptamu melebihi rasa cinta ibumu terhadap kamu" - Jujur, aku berusaha mengumpulkan kesadaran atas hal ini secara berkesinambungan sepanjang waktu.

Rasa dicintai itu membuat kita menjadi kuat. Kamu melakukan banyak ritual tanpa rasa sadar bahwa kamu sangat dicintai itu berbeda rasanya dengan kamu lakukan ritual itu hanya karena takut masuk neraka yang mungkin ga ada tembakau disana. Apinya ada, tapi ga bakal ada rokok disana.

Bayi-bayi dan anak-anakku memiliki kapasitas untuk tidur pagi dan mereka selalu memaksimalkan kapasitas itu. Membuat kami (aku dan istriku) ikut terseret kebiasaan itu. Walau kami tak sejago bayi-bayi dan anak-anakku. 
Dengan alasan besok pagi berangkat ke kantor, istriku mengijinkanku tidur duluan. Akhirnya seperti saat ini saat mereka semua tidur aku punya waktu untuk menulis dan memikirkan banyak hal. Membangun kesadaran.

Sama seperti keputusan untuk pindah ke Mojokerto dari Surabaya agar biaya hidup lebih irit. Perjalanan panjang setiap pagi berangkat ke kantor dan pulangnya mengijinkanku untuk memikirkan banyak hal. Senja biasanya menemaniku saat itu.


Yohan Wibisono
Pada suatu hari

No comments:

Post a Comment