Halaman

Hidup Minimalis, Kontribusi Maksimalis

Hidup Minimalis, Kontribusi Maksimalis

Beberapa orang cara membahagiakannya adalah dengan kesempatan untuk melakukan banyak hal untuk orang lain (lebih banyak daripada untuk diri sendiri)

Kemampuan belanja kadang tidak sebanding dengan kemampuan menganalisa apakah barang-barang dan jasa yang kita beli benar-benar kita butuhkan? 
Masing-masing dari kita memiliki kapasitas yang berbeda dalam menilai, menahan diri, melakukan analisa apakah yang akan kita beli benar-benar manfaat, atau kehausan sesaat, atau 'menebus rasa masa lalu'. Atau terkadang kita membeli sesuatu sekedar untuk kita tunjukkan bahwa kita mampu membeli, memiliki, berkuasa atas sesuatu.

Dalam dunia pemasaran, orang tidak membeli barang dan jasa yang dia sanggup beli. Orang membeli rasa yang dia inginkan saat menggunakan barang dan jasa tersebut.

Hidup minimalis dan kontribusi maksimalis adalah kiblat bagi orang-orang yang menyadari dan bertindak bahwa dunia adalah 'penjara bagi orang-orang beriman'. Mereka menyadari bahwa dunia ini fana, dan yang kekal adalah hari akhir. Maka mereka berinvestasi pada hari akhir dengan berkontribusi/ beramal sebanyak mereka mampu.

Hidup minimalis dan kontribusi maksimalis adalah kesadaran dan tindakan orang-orang yang yakin bahwa semua yang mereka 'miliki' di dunia akan diminta pertanggungjawabannya. Maka mereka berusaha sedemikian rupa memiliki barang sesedikit mungkin dan mengkontribusikannya kepada yang membutuhkan sebanyak mungkin.

Hidup minimalis dan kontribusi maksimalis adalah orang-orang yang juga sudah 'kelelahan' menuruti hawa nafsunya memiliki banyak barang sampai suatu masa mereka menyadari bahwa bergitu banyak barang malah menyita banyak waktu mereka untuk menjaga merawat dan mengaturnya. Sejak itu mereka bertindak meminimalkan jumlah kepemilikan barang dan ruang.

Yohan Wibisono
Pada suatu hari 

No comments:

Post a Comment