prasangka | mereka bilang aku psikopat | padahal kamu adalah 1 dari sedikit perempuan yang aku ga mampu bohongi

Prasangka mereka dimana, prasangkaku dimana.
Besok kita lihat posisi masing2 dari kita dihadapan Rabb kita.

Tak pernah kusangka begini kejadiannya ketika menerjemahkan bahasa ini :
"Barangsiapa senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim" Muttafaq Alaih dari hadits Anas
Wibawa mereka dimana, wibawaku dimana.
Biar indah dimata duniamu, ato biar indah di 'mata' Rabb kita.

Hidup dengan mengagumi banyak lukisan indah dan ingin berkenalan dengan pemilik2 karya lukisan itu.
Sama seperti ku ingin menggenggam tangan Gibran andai beliau masih hidup.
Bukan berarti kuingin menikahi Gibran.
Atau jualan tahitian noni juice pada Gibran.

Aku tak beraturan mengepung persahabatan dan silaturahim.
Hingga tak memilih.
Seperti Nabi kita tak memilih dengan siapa Beliau tersenyum.
Bukan berarti aku 'gatel' memburu pasangan hidup :D
Ato semua orang pengen kudagangin :D
Aku tak mencumbu dan menginginkan pasangan orang.
Dan mengiba karenanya.
Lalu 'berputus asa' = "kalo tak dengannya aku tak mau menikah" :D
Kesimpulan :
"Okelah, kutak kan menyentuh duniamu lagi".
Aku menggenggam tangan perempuan telanjang karena menghargai keputusannya.
Aku bersalaman dengan kyai pendeta biksu itu karena mengagumi keputusannya.
Bukan karena aku jalang berkenalan sana sini.

Non,
Prasangka mereka,
Menjebak posisi mereka sendiri di hadapan Rabb kita,
Jangan ikut tenggelam,
Karena kamu mengenalku lebih baik ketimbang mereka.

Memang aku tak terkagumi olehmu.
Tapi aku juga tak mengkhianati istriku dengan mencumbumu.
Atau mengijinkanmu melihatku sedang mencumbu perempuan lain.
Karena jika aku begitu : cuma perihal waktu saja aku kan mengkhianatimu.
Aku cuma mengagumi adik2ku yang 'tabah' berkakak aku :D
Atau Mamaku yang memilikiku.
Atau Ayahku yang memilikiku.
Sebenarnya aku menginjinkanmu memilikiku juga, tanpa syarat.

Hey!! Sadarkah kau : ku cuma pria naif yang ga pinter pake 'topeng kebesaran'.
Agar tampak berwibawa dikebanyakan orang.
Agar tampak 'elit'.
Sama seperti ketika semua orang memujimu : "wah cantiknya".
Kubilang : "pake penutup muka, dah kayak ninja hitori".
Yang dewasa tertawa bersama.
Yang kerdil marah2.
Aku cuma ga pinter tampak bahagia didepan banyak orang walau hati hancur.
Andai diijinkan Gusti Allah sebagai perantara untuk bisa menyembuhkanmu.

Hey, aku hidup memang di dunia yang tak mudah aku mengerti
Mereka bilang aku psikopat
Terlalu banyak prasangka yang disematkan padaku disana sini oleh 'calon2 penghuni surga' padaku
Jadi jangan terlalu dekat berjalan denganku
Malu nanti kamunya :D

Kupikir 'menyalami mereka' adalah bagian dari apresiasiku menghargai karya2 mereka
Tak ada hubungannya denganmu, apalagi temanmu
Hanya tak sengaja bahwa dia temanmu
Tidak 'menggunakan' namamu
Hanya temanmu karyanya indah
Kalo tak ingin karyanya dikagumi banyak orang
Suruh Allahmu membunuh bakat indahnya itu
Atau sembunyikan dibawah kasur
Karena bakat indahnya itu meng-kerdil-kan otaknya
Bukan membuatnya semakin bijak dalam silaturahim
Ga berkah

Aku psikopat
Psikopat artistik kata terapis ku
Jadi saat semua orang berprasangka aku marah
Sebenarnya aku sedang mencandaimu dengan kejujuranku
Dan mengetikkan ini dengan tersenyum, bersama LA Merahku, dan asap yang ditimbulkannya
Beserta segelas air putih pagi yang mencelupkan bayang wajahmu didalamnya :)
Diselingin laporan pegawaiku perihal pekerjaan yang mereka kerjakan semalam (maklum, programmer)
Aku lelah memarahi diriku sendiri
Apalagi memarahi orang lain
Biarlah itu penjadi pekerjaan 'calon2 penghuni surga' | dengan prasangka2 mereka
"aku disini hanya karena tak ingin kehilanganmu"
Sebagai sahabat, teman
Tak ingin seperti laki2 lain yang benar ingin berkuasa diruang benakmu
Yang mampu membelikanmu tehnologi2 terbaru
Bukan teh herbal buatan Institut Pertanian Bogor yang ingin kukirimkan padamu lewat temanku yang kebetulan tinggalnya di Bogor.
Hanya karena ceritamu perihal mu dan Mama yang suka minum teh
Aku cuma ingin sebuah ruang kecil
Buat kamu berprasangka wajar perihalku
Dan aku berprasangka baik perihalmu
Seperti aku mengagumimu
Seperti aku ingin Allah selalu memberkahi langkah2mu"
Seperti aku ingin adik2 kecilku juga diperlakukan sama oleh orang lain
Saat aku masih ada
Ato aku sudah tak ada lagi

Sesungguhnya aku tak berharap kau membaca benakku ini
Takut kau membaca dan melihatnya dari sisi yang paling melukaimu
"Padahal kamu adalah 1 dari sedikit perempuan yang aku ga mampu bohongi"
Denganmu
Aku telanjang

1 comments:

Pencerah mengatakan...

mari kita berprasangka bersama