
hidup bersyukur
Kenal seorang Bunda. Yang hidupnya luar biasa penuh tantangan [kalo ga mau dibilang cobaan]. <1> Terlalu muda untuk menerima perlakuan menyimpang dari seorang laki-laki... dan trauma. Terpaksa menikah dengan orang yang tidak ia cinta dan terpaksa melayani dengan demikian tersiksanya. Kemudian berpisah. Kemudian ia berjuang sendiri menyelesaikan studinya.
Kenal seorang Bunda. Yang hidupnya luar biasa penuh tantangan [kalo ga mau dibilang cobaan]. <1> Terlalu muda untuk menerima perlakuan menyimpang dari seorang laki-laki... dan trauma. Terpaksa menikah dengan orang yang tidak ia cinta dan terpaksa melayani dengan demikian tersiksanya. Kemudian berpisah. Kemudian ia berjuang sendiri menyelesaikan studinya.
Hingga someday akhirnya bertemu dengan orang yang ia cinta, entah bagaimana ceritanya, setelah bertunangan dan mendekati pernikahan sang tunangan 'berhasil' menghamili orang lain <2>. Hancur lagi hati dan hidupnya. Perih.
cara bersyukur
Beberapa tahun kemudian datanglah seorang laki-laki baik bertaqwa yang menawarkan hidupnya, ingin menikahinya. Ia menikahinya walau tanpa rasa. Ia menikahi dengan alasan agama. Ia menikahi laki2 itu selama 12 tahun hingga Malaikat Maut menjemput sang laki-laki.
cara bersyukur
Beberapa tahun kemudian datanglah seorang laki-laki baik bertaqwa yang menawarkan hidupnya, ingin menikahinya. Ia menikahinya walau tanpa rasa. Ia menikahi dengan alasan agama. Ia menikahi laki2 itu selama 12 tahun hingga Malaikat Maut menjemput sang laki-laki.
12 tahun perjalanan pernikahan hanya karena agama tanpa cinta. Tanpa rasa cemburu. Tanpa rasa kehilangan. Tanpa rasa marah. Hambar. Bahkan mungkin tanpa rasa syukur. Walau juga tanpa rasa protes. Jika ada rasa protes mungkin hanya karena sang laki-laki harus menafkahi seluruh adik-adiknya hingga kuliah. Hingga hidupnya penuh keterbatasan. Ia tekankan dalam batinnya bahwa ia menikah karena agama, ia tidak cinta, ia hanya melakukan kewajiban, dsb. Ia tidak bersyukur. Walau laki itu sedemikian setianya.
Saat laki2 itu meninggal, baru terasa beban hidup yang sebenarnya. 3 anak, 1 nahkoda. Limbung. Mau gimana2, cinta tidak cinta hanya perihal rasa yang bisa tumbuh dan mati tergantung dengan kemampuan kita bersyukur. Dunia hanya segitu-gitu saja.
Beberapa tahun kemudian ia menikah lagi. Bercerai.
Sampai akhirnya bertemu dengan orang yang ia cinta yang dulu tidak jadi menikah dengannya karena menghamili orang lain. Dan akhirnya menikah lagi dengan mantan tunangannya yang dulu.
Namun kini terpaksa hidup terpisah. Ia mencintai namun sering kesepian karena anak-anaknya pun hidup terpisah dengannya karena lain sesuatu hal. Kini ia belajar [berusaha] untuk mensyukuri apa yang ada, walau sering SMS-SMS beliau masih berkesan 'hampa'.
Beberapa tahun kemudian ia menikah lagi. Bercerai.
Sampai akhirnya bertemu dengan orang yang ia cinta yang dulu tidak jadi menikah dengannya karena menghamili orang lain. Dan akhirnya menikah lagi dengan mantan tunangannya yang dulu.
Namun kini terpaksa hidup terpisah. Ia mencintai namun sering kesepian karena anak-anaknya pun hidup terpisah dengannya karena lain sesuatu hal. Kini ia belajar [berusaha] untuk mensyukuri apa yang ada, walau sering SMS-SMS beliau masih berkesan 'hampa'.
Memang tidak nyaman menikahi orang yang tidak ia cintai, namun begitu banyak orang menikahi yang ia cintai namun keadaan tidak membuatnya bahagia. Syukurilah yang ada, jaminan Allah menambah nikmat, bukan sebaliknya. Jaminan Allah atas rasa syukur kamu dan menikah karena agama adalah cinta dan kehidupan yang penuh berkah.
Salah satu cara meningkatkan kualitas hidup kamu hanya cuma dengan bersyukur dan berusaha. Itu janji Tuhanmu dan Tuhanku. Bahkan Tuhan kita. Aku tahu memang tidak mudah, namun jika kamu kita complain/ protes, ga bersyukur, maka keadaan akan bertambah buruk. Yang kita punya cuma itu (bersyukur), maka pergunakanlah.
Terima kasih ilmunya Bunda, :)
0 comments:
Poskan Komentar